Kamis, 20 Desember 2012

ches pain (nyeri dada)

Chest pain atau "nyeri dada" sangat tidak asing di benak kita. Namun sayangnya, masyarakat kita sering mendefinisikan chest pain sebagai suatu gejala[2] realisasi gangguan yang berasal dari organ jantung saja.  Padahal sejatinya, chest pain tidak hanya berasal dari organ jantung. Akan tetapi dapat juga berasal dari organ pernafasan, organ pencernaan dan bisa juga dari masalah kejiwaan.

Chest pain dari masing-masing organ ini memiliki ciri-ciri yang khas sehingga membuatnya dapat dibedakan dari chest pain yang berasal dari organ lainnya.

Berikut ini akan kami paparkan secara lebih rinci tentang etiologi[3] chest pain dari setiap organ. Diantara tujuan dari pemaparan ini adalah untuk membedakan etiologi dari berbagai chest pain sehingga bisa dibedakan masing-masingnya.

1.        Chest pain dari organ jantung
Jantung adalah salah satu organ vital bagi kehidupan manusia. Ia berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh dalam rangka membantu proses metabolisme. Dalam menjalankan fungsinya, terkadang jantung mengalami gangguan sebagaimana dalam penyakit AMI[4].
AMI ini merupakan salah satu penyakit jantung yang seringkali menimbulkan keluhan berupa chest pain/nyeri dada. Hal ini disebabkan karena adanya sumbatan lemak atau plak[5] di sebagian pembuluh darah[6] jantung sehingga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung yang mengakibatkan otot jantung mengalami hipoksia[7] yang lama-kelamaan menjadi iskemik atau matinya sebagian sel otot jantung.
Keadaan inilah yang menimbulkan rasa nyeri di dada terutama di sebelah kiri. Kenapa di sebelah kiri? Karena jantung letaknya di sebelah kiri[8]. Gejala lainnya yaitu nyeri bisa sampai dagu, leher kiri, bahu kiri, lengan kiri hingga ujung jari sebelah kiri.
Kenapa semua gejala spesifiknya ada di sebelah kiri? Karena arteri koroner berfungsi untuk mensuplai darah ke bagian-bagian tubuh sebelah kiri seperti dagu, leher, bahu, lengan hingga jari-jari sehingga ketika suplai oksigen itu tergganggu maka secara otomatis organ-organ yang disebutkan tadi akan mengalami nyeri.
Kriteria lain nyeri dada pada organ jantung ini adalah rasa nyeri yang dirasakan seperti dada terikat dengan erat atau ditindihi beban yang sangat berat, nyeri timbul secara mendadak dan biasanya dipicu oleh olah raga atau emosi.
Untuk diagnosis pasti penyakit AMI bisa didukung dengan pemeriksaan EKG[9] dan enzim jantung.

2.       Chest pain dari organ paru-paru
Sama halnya dengan jantung, paru-paru merupakan satu organ vital manusia yang tanpa eksistensinya, sulit bagi manusia untuk bernafas. Pada sebagian penyakit paru-paru[10], terkadang menimbulkan nyeri dada yang kronik progresif[11] yang disebabkan karena adanya infeksi bakteri.
Chest pain pada penyakit paru tidak timbul secara mendadak sebagaimana pada penyakit jantung. Akan tetapi penderita sebelumnya sudah memiliki riwayat penyakit paru kronis yang menimbulkan gejala chest pain dan semakin lama semakin memberat.
Sebenarnya nyeri dada yang terjadi pada penyakit paru kurang begitu dominan dirasakan oleh penderita. Akan tetapi yang sangat dirasakan adalah adanya sesak nafas[12]. Disamping itu ada gejala lain yang menyertai yaitu batuk[13] dan demam[14].
Untuk mengetahui diagnosis penyakit apakah chest pain tersebut berasal dari organ paru atau tidak, maka dapat dilakukan pemeriksaan rontgen paru dan EKG.

3.       Chest pain dari organ pencernaan
Organ pencernaan adalah salah satu organ yang juga memiliki fungsi tidak kalah penting bagi manusia. Organ ini mempunyai peran mengurai setiap makanan dan minuman yang masuk ke tubuh menjadi zat-zat yang diperlukan tubuh dengan cara mengabsorbsi[15] dari organ lambung dan usus.
Suatu kelainan pada sistem pencernaan yang dapat menimbulkan chest pain yaitu GERD[16]. Mekanisme nyerinya adalah asam lambung naik sampai kerongkongan sehingga mengiritasi dinding esophagus. Asam lambung ini bisa naik menuju ke esophagus dikarenakan lemahnya penutup lambung bagian atas[17].
Ciri khas nyerinya adalah terletak di belakang tulang dada bagian tengah (tulang sternum), rasanya panas seperti terbakar dan menjalar hingga ke leher. Penderita juga mudah merasakan kenyang, sering sendawa ("glegeken" dalam bahasa jawa).
Diagnosis penyakit ini sudah cukup jelas jika dilihat dari gejala yang dikeluhkan pasien. Akan tetapi untuk memastikannya, dapat juga dilakukan pemeriksaan esophaguscopi[18] atau endoskopi[19].

4.      Chest pain karena masalah kejiwaan
Kehidupan manusia idak bisa lepas dari yang namanya problem. Setiap manusia memiliki problem tanpa terkecuali kita. Hanya saja kita tidak boleh berpangku tangan menunggu keajaiban saat terjadi suatu problem. Akan tetapi kewajiban kita adalah wake up, bergerak dan mencari solusi terbaik dengan cara-cara positif serta adaptif yang tidak merugikan banyak pihak.
Sayangnya, tidak setiap orang bisa menerapkan metode penyelesaian masalah dengan baik. Padahal sudah banyak tersebar di berbagai penjuru negeri tempat-tempat belajar yang mengajarkan bagaimana menangani suatu problem.
Realita masyarakat menunjukkan bahwa manusia yang memiliki kecerdasan tinggi sudah sangat banyak. Akan tetapi mengapa kehidupan tidak kunjung membaik? Masih ada sebagian orang yang ingin menyelesaikan problem-nya dengan mengakhiri kehidupannya? Salah satu jawabnya adalah karena tidak ada kepintaran dari segi iman dan akhlaq.
Akal dan teknologi tumbuh dengan pesat akan tetapi iman dan akhlaq tenggelam tanpa diperdulikan. Hal itu menyebabkan munculnya keluhan-keluhan patologis yang sebagiannya bersifat psikologis. Diantaranya adalah chest pain. Lebih spesifiknya ialah chest pain in psychiatric problems.
Chest pain dan masalah kejiwaan memiliki hubungan yang sangat signifikan. Karena ada sebagian orang yang ia mengalami kelainan psikosomatis[20] sehingga mengeluhkan nyeri dada. Hal ini wajar terjadi bagi sebagian orang dengan tipe kepribadian tertentu. Semisal tipe kepribadian tertutup (introvert) atau mudah tersinggung[21]. Nyeri dada pada pasien ini tidak spesifik dikarenakan pasien tidak bisa menggambarkan secara tepat. Pasien mengalami kebingungan dalam menjelaskannya. Terkadang ia mengatakan pusing, sesak nafas hingga nyeri dada.
Solusi untuk mengatasi nyeri dada itu adalah dengan psikoterapi[22] dan mengenalkan pasien dengan strategi pemecahan masalah yang adaptif. Karena ketika pasien sudah menemukan solusinya, maka nyeri dada bisa berkurang atau bahkan bisa hilang.




 Keterangan

[2] Gejala adalah data yang diperoleh dari pernyataan yang diucapkan oleh klien atau pasien. Sedangkan tanda adalah data yang didapat dari pengamatan atau analisa atau pengkajian klinis dari perawat atau dokter atau tim kesehatan lainnya. Dari sini nampak adanya perbedaan mendasar antara pengertian istilah "tanda" dan "gejala".
[3] Etiologi adalah penyebab terjadinya sesuatu. Namun seringkali kata "etiologi" lebih akrab diaplikasikan dalam dunia kesehatan.
[4] AMI (Acute Myocard Infark) adalah kematian mendadak pada sebagian otot jantung karena kurangnya suplay oksigen atau suatu diagnosis penyakit yang mendasari timbulnya chest pain.
[5] Plak adalah kumpulan kotoran yang ada di pembuluh darah yang bisa berupa nikotin, sisa produk metabolisme yang tidak dibuang.
[6] Lebih spesifik sumbatannya ada di arteri koronaria. Suatu arteri yang cukup vital bagi jantung.
[7] Hipoksia adalah keadaan dimana sel-sel organ tertentu mengalami kekurangan oksigen
[8]Normalnya jantung letaknya di dada sebelah kiri atau yang dikenal dengan istilah sinistrokardia. Namun ada juga kelainan congenital (bawaan sejak lahir) dimana jantung berada di sebalah kanan atau yang dikenal dengan nama dextrokardia. Penulis memiliki rekaman video yang menarik tentang pasien dextrocardia. Bahkan rekan dari penulis pernah menjumpai pasien dextrokardia di salah satu Rumah Sakit di Temanggung dan dikatakan bahwa kasus ini termasuk kategori "kasus langka".
[9] EKG adalah Elektro Kardiografi atau alat rekam irama jantung.
[10] Seperti bronchitis, pneumonia, TBC dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik.
[11] Nyeri kronik progresif adalah keadaan yang pada jangka waktu lama semakin bertambah berat.
[12] Hal ini karena bakteri itu mempersempit jalan nafas sehingga keluar masuknya udara mengalami hambatan yang mengakibatkan pasien mengalami sesak nafas.
[13] Sebagai respon tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang ada di saluran nafas bagian bawah (dari bronkiolus sehingga alveolus)
[14] Terjadi demam disebabkan karena adanya peradangan.
[15] Absorbsi adalah menyerap sari-sari makanan. .
[16] Gastro Esophageal Refluks Disease adalah suatu penyakit yang diakibatkan lemahnya otot penutup lambung bagian atas atau mendatarnya posisi lambung sehingga mengakibatkan makanan kembali ke esophagus (kerongkongan)
[17] Dalam bahasa medis dikenal dengan kardia.
[18] Suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan cara memasukkaan selang khusus yang berkamera melalui mulut menuju esophagus. Fungsinya untuk melihat dinding esophagus apakah teriritasi atau tidak.
[19] Mekanismenya sama dengan footnote no 17. Akan tetapi kalau endoskopi, alat tersebut sampai ke bagian lambung.
[20]Suatu gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh adanya tekanan psikologis sehingga menimbulkan manifestasi gejala fisik. Seperti pingsan, kejang, sesak nafas, denyut jantung meningkat.
[21]Hal ini dikarenakan tidak adanya penyelesaian masalah yang adaptif sehingga seorang terkadang mudah tersinggung.
[22] Psikoterapi adalah terapi yang diberikan kepada pasien dengan gangguan kejiwaan dengan menggunakan metode komunikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar